Bagaimana Anak Umur 9 Tahun Meningkatkan Penjualan 4x Lipat Hanya dengan Mengganti Pertanyaan Closing

Asyik sekali kalau semakin cepat sold out! Ada yang gak mau?

Asyik sekali kalau semakin cepat sold out! Ada yang gak mau?

Minggu lalu, sesudah pulang sekolah, anak saya dengan semangatnya cerita ke saya, “Pa, sekolah Dhava ultah 60 tahun dan bikin acara. Satu tiketnya 10 ribu. Tiketnya mau beli berapa?”

Langsung saya jawab, “Lima donk. Buat kita berlima: papa mama, Dhava, Viella dan Liora.”

“Tiketnya masih banyak pa dan mesti dijual habis.”

“Lho?” karena saya jadi bingung.

Sewaktu saya baca surat pengumuman dari sekolah, ternyata setiap murid diberi 50 tiket dan semuanya harus terjual habis. Semua tiket diundi dengan hadiah sepeda motor, kulkas, mesin cuci, tablet, dll.

Aha, ini berarti kesempatan bagus bagi anak saya untuk langsung praktek menjual (dan karena saya juga tidak mau beli 50 tiket) 🙂

“Tiketnya mau dijual ke siapa saja?” => menggali target market

“Papa sudah. Jadi mama, emak, engkong, oom Adi, tante Mira, opa Sindhu, oma Grace, tante Mita, oom Jake.” => Oho, bagus sekali karena langsung menyasar warm market!

“Gimana Dhava jualnya?”

“Nanti nelpon.”

So far so good. Lalu sorenya Dhava nelpon prospek pertama, mama saya.

“Emak, sekolah Dhava ultah 60 tahun, bikin acara dan ada hadiah motor, kulkas, mesin cuci… Tiketnya 10 ribu. Emak mau beli?” => Aduh, kaget saya, karena pertanyaan ini bisa dijawab ya dan tidak. Untungnya emak beli 5 tiket.

Lanjut nelpon ke prospek berikutnya, adik saya.

“Oom Adi, sekolah Dhava ultah 60 tahun, bikin acara dan ada hadiah motor, kulkas, mesin cuci. Tiketnya 10 ribu. Oom Adi mau beli berapa?” => Better question karena jawabannya hanya “ya”, yaitu jumlah tiket yang mau dibeli. Oom Adi beli 5 tiket dan bukan hanya 1 tiket.

Lanjut lagi ke istri adik saya.

“Tante Mira, sekolah Dhava ultah 60 tahun, bikin acara dan ada hadiah motor, kulkas, mesin cuci. Tiketnya 10 ribu. Tante Mira mau beli 5 atau 10?” => Lebih baik lagi karena kita menentukan pilihan jumlahnya, dan ini disebut double binding karena jawabannya hanya ya dan ya secara implisit. Tante Mira beli 5 tiket.

Berikutnya papa saya.

“Engkong, sekolah Dhava ultah 60 tahun, bikin acara dan ada hadiah motor, kulkas, mesin cuci. Tiketnya 10 ribu. Engkong mau beli 5 atau 10? Atau sekalian 20 tiket?” => Sering kali 3 pilihan, apalagi dengan upsell, lebih baik hasilnya. Dan engkong beli 20 tiket. Ini berarti hasil penjualannya 4x lipat dengan hanya menambahkan pertanyaan upsell.

Yak, target 50 tiket sudah tercapai karena mama juga sudah beli 5 tiket, dan Dhava dapat omzet 1/2 juta dalam sehari 🙂

Karena tiket sudah habis, kita belum sempat mempraktekkan ke opa Sindhu, oma Grace, tante Mita dan oom Jake. Padahal saya penasaran bagaimana hasilnya jika jumlah penawarannya kita tingkatkan: “Mau 10, 20, atau sekalian 50 tiket?”

Ya, kita sudah melihat langsung bagaimana double binding dan upsell bisa meningkatkan penjualan. Dan ketika saya masih aktif di network marketing, saya juga mengajarkannya ke tim saya, baik untuk mengundang atau pun closing.

“Mau ketemu Jumat jam 19 atau Sabtu jam 11?”

“Mau pilih paket Supreme atau Ambassador? Sekalian juga dengan prepaid autoship 6 bulan?”

Dan ini hanyalah sebagian kecil dari teknik meningkatkan sales penjualan Anda karena masih banyak lagi lainnya di sini yang ampuh.

Saya penasaran, pertanyaan closing apa yang biasanya Anda gunakan?

Leave a Reply

%d bloggers like this: